Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Mei 2014

Healing Crisis

Bertahun-tahun yang lalu, saya mendapatkan hadiah BioN Cerastone Bracelet dari perusahaan sewaktu saya masih menjadi staff admin. Sebuah gelang yang terbuat dari untaian biofir dihiasi kristal swarovski. Untuk mendapatkan gelang itu biasanya orang harus membeli paket pengobatan Jelly Gamat Luxor dan Spirulina sekitar 800 ribuan kalau tidak salah, dan itu pun selama persediaan masih ada karena konon katanya gelang ini terbatas. 



Biofir adalah batuan alam yang dapat memancarkan ion negatif. Apabila tubuh kekurangan ion negatif, maka saat bangun tidur tubuh cenderung lesu tidak bertenaga, emosi labil mudah tersinggung, selain itu daya tahan tubuh lemah rentan sakit. Kalung biofir adalah produk yang paling umum karena bisa digunakan pria dan wanita, kalau gelang kan cuma cocok dipakai wanita ya, ketika memakai kalung biofir maka peredaran darah menjadi lancar. 

Khasiat dari kalung dan gelang biofir akan benar-benar terasa jika kita menggunakannya terus-menerus, kalau sering dilepas-pakai tidak akan terasa. Namun pada pemakaian di awal-awal akan ada yang namanya krisis penyembuhan, yaitu reaksi tubuh sedikit kaget menerima gelombang yang dihasilkan biofir. Healing crisis yang saya alami ditandai dengan gejala pusing-pusing dan berkeringat sangat banyak, padahal saya tidak melakukan aktifitas apa-apa selain duduk di depan komputer seharian. Gejala tersebut hilang dengan sendirinya seiring dengan pamakaian gelang biofir yang hanya saya lepas saat mandi. 

Dulu saya tidak berpikir untuk memakai gelang itu, karena bisa memilikinya sudah senang. Tapi setelah seseorang mengingatkan saya akan hebatnya pengaruh kalung biofir, sampai-sampai bisa membuat pemakainya merasa keren (karena harganya mahal), saya mulai sadar selama ini saya sudah mengabaikan sesuatu yang sebenarnya memberi manfaat luar biasa jika saya mau menggunakannya. 

Sayangnya tangan saya terlalu kecil, gelang itu terasa longgar dan tidak mau diam di tempat. Ini tentu menganggu saya yang suka bergerak cepat dan gesit dalam bekerja hehehe. Daripada menunggu berat badan saya bertambah dengan harapan tangan saya akan sedikit lebih besar supaya gelangnya cukup, lebih baik saya me-ronce ulang dengan melepas dua atau empat batu supaya gelangnya tidak banyak bergeser.
12.43

Sabtu, 05 April 2014

Mau Voucher Penerbitan Senilai 250.000 dari Leutika Prio?

Old Sunday - Awal Maret lalu saya mengirimkan tulisan saya ke redaksi Majalah Nouvalitera, yang kini telah terbit dalam bentuk E-Magz dan sudah bisa diunduh secara gratis. E-Magz Nouvalitera adalah fasilitas bagi penulis muda, atau siapa saja yang tertarik untuk belajar menulis, di dalamnya ada banyak hal seputar kepenulisan yang bisa dijadikan inspirasi. Tulisan saya yang dimuat adalah tips sederhana dalam menulis, Never Left Your House Without Notes (Jangan Pernah Meninggalkan Rumah Tanpa Catatan).

Silakan unduh E-Magz Nouvalitera Edisi Perdana disini.

Saat mengetahui tulisan saya terpilih dari proses seleksi yang panjang, rasanya senang tiada terkira, ini pertama kalinya naskah saya diterima oleh redaksi majalah (meski sebelumnya belum pernah terpikir untuk melakukannya hehehe). Apalagi ketika foto saya terpasang di kolom kontributor, saya merasa seperti penulis sungguhan! Sebagai kompensasi dari penerbit Leutika Prio, saya mendapat hadiah berupa voucher penerbitan senilai 250.000 dan sebuah buku terbaru, Cepat Jago Bahasa Korea oleh Suri Wulandari.

Bicara mengenai voucher penerbitan, saya tidak berencana menerbitkan buku dalam waktu dekat ini karena masih banyak hal yang perlu saya urus. Daripada voucher tersebut expired begitu saja lebih baik saya tawarkan ke orang yang lebih membutuhkan, mengingat masa berlaku sampai 30 September 2014. Saya dengar jual-beli voucher self publishing sudah tak asing lagi, untuk mendapat voucher 100.000 Anda membeli seharga 80.000 di penerbit. Sedangkan untuk voucher senilai 250.000 yang ada di saya, Anda bebas menentukan harga. 

Berikut ini adalah penampakan voucher secara fisik. Saya beri bonus bukunya deh, karena saya tidak berencana ke Korea tahun ini wkwkwk :D

cuma ada 1, ayo siapa cepat dia dapat..
Bagi Anda yang berminat, silahkan kontak saya melalui Twitter: @ElsawatiDewi 
atau kirim email ke elsawati.dewi@gmail.com
Kalau mau fast respon hubungi saya di nomor 0838275605555 atau pin BB 29E4EA23
10.35

Rabu, 02 April 2014

Good Bye High Heels

Old Sunday - Saya dulu mengidolakan high heels karena membuat tubuh sedikit lebih tinggi, menciptakan ilusi kaki yang jenjang, dan menjadi simbol feminisme yang kuat. Tentu saja bagi wanita bertubuh mungil memakai high heels itu penting, ibaratnya kalau nggak pakai sepatu hak tinggi saya merasa 'tidak terlihat'. Ini sedikit rumit untuk dijelaskan, tapi pada intinya saya dulu tidak bisa lepas dengan high heels kemana pun saya pergi bahkan saya mengkoleksi beberapa sepatu.


Lain dulu lain sekarang, saya sangat percaya bahwa manusia itu harus cair fleksible, harus bisa berubah-ubah menyesuaikan diri, dan memperbaiki diri terus menerus. Terkadang saya berpikir, kenapa saya begitu ngotot memakai sepatu hak tinggi yang kalau dipakai berjalan-jalan terlalu lama ini membuat kaki terasa sakit? Apakah benar cantik itu harus sakit? Saya menghibur diri sendiri, jika seorang wanita masih mengeluh pakai high heels, tandanya ia belum siap jadi wanita.

Selama ini saya bangga dengan diri saya karena di antara teman-teman wanita yang lain, hanya saya yang suka memakai high heels, saya seperti memiliki perbedaan (dalam artian yang baik). Akan tetapi saya harus sadar sepenuhnya bahwa saya yang sekarang sudah banyak belajar dari pengalaman. Mengkoleksi beberapa model sepatu itu gak ada habisnya, gak ada bosennya, seolah-olah rasa ingin memiliki dirangsang terus menerus. Padahal sepatu-sepatu seperti itu bisa saja menyulitkan saya ketika dihadapkan pada situasi berbahaya.

Meninjau kasus hilangnya pesawat Malaysia Airlines, eh kok malah ngomongin pesawat, ada sebuah artikel bagus di National Geographic yang menganalisa berapa lama penumpang bisa bertahan hidup setelah pesawat jatuh. Dan yang dikatakan peneliti adalah, kalau penumpang dibekali dengan pakaian dan alas kaki yang tepat, kemungkinan 95% penumpang bisa bertahan hidup. Tidak mungkin seorang wanita bisa selamat apabila ia mengenakan high heels, konyol sekali, tapi memang begitulah adanya.

Mungkin saya akan mengobati kerinduan saya akan feminisme yang kental dengan memakai mini dress dan high heels pada kesempatan tertentu. Namun untuk sekarang, hal-hal berbau feminin seperti itu saya simpan dulu di lemari sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Lagipula saya lebih nyaman pakai sandal dengan tali temali, detailnya yang rumit terlihat elegan tapi bisa dipakai ke tempat-tempat dengan medan terjal seperti gunung misalnya. Saya bisa melangkah dengan ringan, mengendap-endap tanpa suara, berlari lebih kencang, menjajari teman-teman saya yang rata-rata tinggi besar wkwkwk =))

sandal yang saya pakai sekarang.. kurang lebih kayak gini modelnya :D
21.29

Kamis, 27 Maret 2014

Apakah Saya Seperti Vampir?

Old Sunday - Setelah beberapa hari malas update, saya kembali lagi dengan membawa postingan yang sedikit nyeleneh ini. Vampir adalah makluk mitologi penghisap darah, berperawakan seperti manusia dan punya siklus kehidupan yang berbeda. Menurut versi serial Twilight, vampir dapat hidup ratusan tahun tanpa mengalami penuaan fisik dan memiliki kemampuan super. Lalu apa hubungannya dengan saya? Kata orang saya seperti vampir karena kulit saya terlihat putih tak wajar, secara fisik tak banyak berubah dalam kurun waktu bertahun-tahun.



Memang saya pribadi menyukai kulit yang tampak sehat tidak peduli apa pun warnanya. Membedakan orang berdasarkan warna kulit itu sangat rasis, tidak sesuai dengan ironi dimana orang Indonesia yang tadinya gelap ingin memutihkan kulit. Sedangkan bule yang sudah jelas berkulit putih malah rajin berjemur untuk mendapatkan kulit eksotis (yang lebih gelap dari warna asli kulit mereka). 

Sebagian besar kulit yang menempel di tubuh saya pernah disentuh produk pemutih, alasannya saya merasa jelek karena dibilang hitam dan dekil. Proses pemutihan itu berjalan lancar, tapi karena saya jarang melakukan aktifitas outdoor kala itu, tanpa sinar matahari kulit saya malah keliatan pucat. Putih tapi tak wajar. Saya sih tidak masalah, hanya saja kalau kulit yang pucat membuat seseorang terlihat seperti vampir kedengarannya horor banget ya :D

Selain itu, saya masih bergaul dengan teman-teman SMP yang berarti sudah mengenal saya selama tujuh tahun. Banyak yang bilang kalau saya seperti vampir karena secara fisik saya tidak banyak berubah. Awalnya saya merasa tersanjung dengan komentar itu, saya mengartikannya sebagai pujian yang kalau diartikan: secara fisik saya tidak banyak berubah, saya masih keliatan seperti anak sekolah. Tapi ketika mereka melanjutkan, tidak bertambah tinggi dan kiloan, wah saya baru sadar kalau itu penghinaan terselebung! Sungguh kenyataan dunia yang ironis... :3

Satu lagi, mata saya amat sensitif dengan radiasi sehingga saya merasa tidak nyaman keluar rumah di siang hari apalagi kalau pas lagi panas-panasnya. Menghindari sinar matahari kedengarannya vampir banget, hahaha, padahal saya bergini gara-gara mengurung diri bersama internet sampai berbulan-bulan. Bisa dibayangkan gimana rasanya tidak melihat cahaya matahari dalam waktu yang lama, kemudian saat keluar rumah pas lagi panas-panasnya, suka salting sendiri hehe :p
22.08

Rabu, 05 Maret 2014

Tentang Saya

elsawati dewi

Nama saya Elsawati Dewi, blogger asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Kawan-kawan boleh memanggil saya El, Elsa, atau Dewi, terserah asal jangan Wati. Saya alumni SMK Negeri 2 Tasikmalaya jurusan Brodcasting angkatan 2008, saya mengenal blogging melalui teman-teman saya di jurusan Teknik Komputer Jaringan. Kalau saja tidak ada mereka, saya mungkin tidak akan seperti sekarang. Kegiatan blogging telah memberi banyak perubahan positif sekaligus membuat hidup saya lebih terarah.

Pekerjaan saya jualan obat herbal di internet sejak 2012, selain itu saya juga menjadi kontributor lepas di beberapa situs berita dan majalah online. Saya suka menulis, boleh dibilang hal terindah yang selalu saya nikmati adalah ketersediaan waktu untuk menulis. Kecintaan saya terhadap hobi menulis membuat saya selalu membawa catatan kemana pun saya pergi, menjadikan hal-hal kecil sebagai inspirasi, dan menulis skenario untuk komunitas film indie. Saya berharap suatu hari nanti bisa terjun langsung ke pembuatan film layar lebar tidak peduli apakah itu cuma sebagai pesuruh hahaha.

Blog Old Sunday ( http://oldsunday.blogspot.com ) berisi tulisan saya seputar liburan, fashion, dan kecantikan. Blog ini ditujukan kepada wanita aktif dinamis serta peduli pada penampilan dan pengembangan diri. Saya percaya bahwa dengan memegang nilai-nilai emansipasi wanita bukan berarti kita melupakan identitas diri kita yang sebenarnya, pendeknya setiap wanita itu harus tampil menarik sesuai karakter masing-masing. 

Terimakasih kepada pembaca yang telah berkunjung, serta kawan-kawan blogger yang telah bersedia berkomentar, saran dan kritik sangat diperlukan bagi perkembangan blog ini. Saya masih harus banyak belajar. Karena hidup adalah pelajaran sampai akhir hayat.

Untuk keperluan kerjasama, klik Kontak.

Salam blogger.

00.00

Selasa, 17 Desember 2013

Makan Mi Ramen

Kuliner adalah salah satu kegiatan favorit nomor tiga dalam kencan, setelah nonton dan ngopi. Tapi dalam episode kali ini saya bukan ingin membagi rahasia dengan siapa saya berkencan, karena saya makan-makan sama mbak Vina. Saya dan mbak Vina sama-sama suka makan mi ramen entah sejak kapan, yang jelas faktor penyebabnya itu karena 1. dekat dengan tempat tinggal, 2. harganya terjangkau. Secara mbak Vina mahasiswa gitu lho, saya bukan... wkwk =))



Menu andalan Mayasi Resto adalah mi ramen polos, chicken, dan beef. Nah karena sedang labil ekonomi jadi saya dan mbak Vina mesen yang polos aja deh cuma 9.000, hehehe ketauan ngiritnya. Tingkat kepedesan ramen bisa request dari level 1 sampai 5, tapi level 1 aja udah pedes banget lho. Enaknya makan mi ramen tuh pas lagi hujan-hujan atau malem, jadi emang lebih enak dimakan pas lagi panas-panas. Tapi awas kesedak.

kayak bintang iklan gak? hehehe :D

katanya lagi males berpose, maklum udah lapar..

Tasik hujan bos!

udah habis, sekarang tinggal pulang. dadaaah..
sumber: facebook.com/mayasi.resto
Saat ini Mayasi Resto baru buka tiga cabang yaitu Bandung, Tasikmalaya, dan Purwokerto. Selain ramen Mayasi juga menyediakan banyak aneka makanan Jepang seperti bento dan dimsum. Saya sudah coba mi ramen dari beberapa tempat dan menurut saya disini yang paling enak (dan paling murah). Sampai jumpa di postingan yang akan datang!
20.43

Sabtu, 14 Desember 2013

Ketemu Lagi Hari Sabtu

Sabtu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang karena setelah seminggu penuh berkutat pada pekerjaan, kini saatnya kita mengatur acara refreshing di akhir pekan atau weekend. Saya juga pernah menulis 10 Cara Menikmati Hari Minggu, dimana sebagian orang memilih bermalas-malasan seharian ketika weekend sebagai bentuk 'balas dendam' atas kesibukan yang mereka terima selama weekdays. 

Yesterday is Saturday. But today, is saturday too?

Nah kalau saya, bagi orang yang merasa tidak benar-benar sibuk sepanjang weekdays itu, ketemu lagi hari Sabtu kok kayak gak ada artinya. Kemana saya ketika semua orang sedang sibuk mengerjakan rutinitas mereka? Dimana saya ketika semua orang sedang pusing mengejar target? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya merasa bersalah dan tidak pantas beristirahat di weekend ini. 

Rasanya seperti tidak adil apabila saya memaksa tubuh sendiri untuk terus bekerja di hari libur, meskipun pekerjaan saya saat ini tergolong sebuah profesi santai karena dikerjakan dari rumah. Gejala yang saat ini saya derita adalah perasaan tidak puas dan kecewa pada diri sendiri karena semua hal yang saya kerjakan seperti tidak membuahkan hasil. 

Namun saya mempelajari sesuatu yang disebut self-reward, bahwa kita harus menghargai dan memberi imbalan atas diri sendiri setelah perjuangan yang dilalui, tidak peduli apakah hasilnya memuaskan atau tidak. Dan saya yakin, dengan tidak menganggap remeh self-reward ini, akan menjadi suatu proses perjuangan menyenangkan yang merupakan bagian dari kesabaran dan konsistensi. 
11.37

Jumat, 08 November 2013

Tanpa Kopi

Setelah seminggu lamanya saya meninggalkan dunia online karena terkena tipes, akhirnya saya bisa kembali menulis alakadarnya untuk menyapa teman-teman blogger semua (mana suaranyaa?). Selama seminggu itu saya hanya bisa berbaring di ranjang sambil sesekali memainkan gadget untuk mengobati rasa bosan, tapi seseringnya yang saya lakukan hanyalah tidur. Entah mungkin karena tipes bawaannya pengen tidur terus atau memang efek obat, yang jelas saya sudah kebanyakan tidur kemarin hehehe :D

Penyebabnya karena saya kurang memperhatikan asupan makan, hehe jadi malu padahal saya sendiri tukang obat. Ya biar semua orang tahulah kalau tukang obat juga manusia, toh manusia juga bisa sakit. Selain itu saya punya kecanduan yang parah sama minuman bersoda, apalagi kalau siang sedang panas-panasnya, minuman bersoda dingin dari kulkas pasti enak dong? Jangan ditiru kebiasaan saya yang satu ini. Gak baik. 

Untungnya sakit saya gak lama-lama, walaupun pengobatannya telat tapi syukurlah saya masih bisa jaga kondisi tubuh dengan banyak minum. Ternyata tipes itu rentan banget sama dehidrasi, asupan cairan diusahakan gak boleh kurang dari 2 liter. Saya juga mengikuti saran dari Mbak Vina supaya rajin-rajin minum sirup cacing, rasanya aneh juga. Sekalian saya mau numpang promo, bagi teman-teman blogger yang terkena tipes, saya masih punya stock Jelly Gamat Gold-G yang siap untuk diorder.


Sekarang Alhamdulilah tubuh saya sudah kembali fit, tapi sayangnya belum boleh makan mie instan dan dilarang minum kopi. Sungguh, dua minggu hidup tanpa kopi itu menyedihkan banget. Kopi gitu lho, teman hidup, teman kerja. Sepertinya saya masih harus menebus berat badan yang turun nih. Paling tidak saya gak perlu diet, karena turun kiloannya juga alami :D
10.01

Rabu, 23 Oktober 2013

Pink & Silver

Pada hari Senin lalu saya dan keluarga menghadiri acara pernikahan sepupu yang bertempat di Ramayana Hotel & Resto. Dekorasi tempatnya bertema pink dan silver, kalau melihat langsung TKP pasti siapa pun iri. Termasuk saya, hehe. Tapi percayalah, pernikahan yang megah tidak menjamin bahtera rumah tangga yang sejahtera.


Inilah pelaminan yang bikin ngiri.

Mempelai wanitanya cantik ya?
Sepertinya warna pink ini dimaksudkan untuk mewakili mempelai wanita, dan warna silver atau abu-abu mewakili mempelai pria. Terlihat dari seragam keluarga dimana semua wanita memakai seragam warna pink, sementara semua pria memakai seragam abu-abu.


Oya, karena mbak Ririn pernah bilang saya cantik pakai hijab jadinya saya kepengen eksperimen gaya baru lagi. 


Saya lagi suka foto yang ini, biarpun keliatan pesek tapi dipuji sama pacar orang. Hahaha. XD
14.32

Senin, 24 Juni 2013

Bad Girl

Istilah bad girl ditujukan pada perempuan dengan perilaku buruk, tidak peduli apakah dia berparas cantik atau biasa-biasa saja. Rasanya sedikit kaku membahas istilah ini dari sudut pandang saya sebagai perempuan, hehehe, gini-gini juga saya cewek lho. :D

Selalu ada alasan di balik sikap seseorang, saya yakin semua orang tahu hal itu. Lalu, bagaimana dengan seorang perempuan yang berkarakter menyimpang? Tentu perilaku tersebut ada sebabnya, apakah itu pengaruh dari  faktor orang-orang di sekitarnya, atau kejadian di masa lalu. Perempuan selalu melibatkan perasaan dalam menyikapi segala sesuatu, terkadang ia memikirkan kesalahan sepele secara berlebihan, tapi hal itulah yang membuat ia semakin kuat. Seorang perempuan baik-baik bahkan bisa saja berperilaku buruk dengan alasan-alasan kuat, dan sekali mereka berubah, akan sangat sulit baginya untuk kembali ke keadaan semula. 

Saya tidak akan mendikte pembaca apa saja yang saja ciri-ciri bad girl, saya tidak mau menghakimi orang lain lagipula saya tahu kok setiap perempuan memiliki sisi buruknya. Yang perlu diingat, jangan sampai kita menjadi alasan kenapa seorang perempuan baik-baik itu berubah menjadi menyimpang, dan kita harus memperlakukan mereka dengan benar. Karenanya, jika seorang bad girl menemukan laki-laki yang tulus menerimanya tanpa mengungkit-ngungkit masa lalu, dengan sendirinya perempuan itu akan berubah tanpa paksaan untuk membuat kekasihnya merasa nyaman di dekatnya.

"Kamu bisa menipu orang lain dengan penampilan, seperti pakaian bagus, make up dan rambut indah... Tapi tidak dengan perilaku. Karena perilakumu itulah yang menunjukkan siapa dirimu," kata seorang pria dengan suara merdunya. Saya menganggap itu sebagai masukan, dan saya sangat menghargai masukan itu. Karena bagi saya itu adalah bukti bahwa dia memperhatikan saya walaupun saya yang sekarang lebih feminin dari lima tahun yang lalu. Tapi dia masih mengenali siapa saya, walaupun penampilan saya berubah. 

Apakah saya seorang bad girl
Saya masih punya sisi buruk, tapi itu aman di tempatnya. :) 

P.S. Lagi seneng dengerin lagu ini Rihanna - Good Girl Gone Bad hihihi ^_^
20.20

Rabu, 05 Juni 2013

Sombong

Membaca twit seseorang yang selama ini telah menginspirasi saya, "Orang yang bilang kita sombong adalah orang yang tidak mengenal kita dengan baik." Tentunya kita tahu bahwa seseorang dikatakan sombong apabila dia merasa risih dengan hal-hal yang dia anggap tidak pantas baginya, yang menurut saya, lebih cocok dibilang batas pribadi. Setiap orang dewasa sudah bisa menentukan batas-batas pribadinya yang tidak boleh dilangkahi orang lain, dan ketika batas tersebut dilangkahi, kita menilai orang itu kelewatan atau keterlaluan. Terjadilah pertentangan, sementara orang yang telah melangkahi batas tersebut menganggapnya sebagai hal yang wajar, karena yang namanya batas pribadi bisa berbeda-beda pada setiap individu, pada akhirnya kita dibilang sombong.

Disebut orang sombong itu sungguh tidak mengenakkan, akan tetapi kita tidak bisa begitu saja membiarkan orang lain melangkahi batas yang telah kita tetapkan. Apalagi, jika ada teman lama yang menjadikan kalimat pembuka "Sombong lu sekarang," sebagai sapaan. Mungkin bagi beberapa orang itu adalah hal yang lumrah, dan saya pun menganggap itu lumrah. Hanya saja tidak menimbulkan kesan pertama yang baik.

Lucunya, hubungan sehat akan tetap abadi. Perdebatan bisa saja terjadi pada setiap hubungan, apalagi kalau hubungan itu sudah berjalan lama. Yang menyenangkan adalah ketika kita berdebat tentang perbedaan pendapat dan perbedaan tersebut membuat kita merasa antusias untuk membahasnya, tanpa ada pihak yang merasa tersinggung. Well, saya pernah baca di artikel yang sumbernya saya lupa lagi, bergaul dengan orang-orang cerdas itu membuat otak kita terjaga dan awet muda. Bagi saya, orang yang antusias dalam menekuni hobinya itu sudah bisa dibilang cerdas, setidaknya itu membuktikan bahwa dia memiliki sesuatu. Dia telah menemukan jiwanya. (el)
11.50

Senin, 20 Mei 2013

In the Toilet

Seperti yang kita tahu, ada beberapa tempat yang membuat sisi kreatifitas seseorang memuncak, salah satunya ketika sedang di toilet. Masalahnya saya gak bisa menuliskan ide-ide yang muncul saat saya sedang di toilet, secara toilet itu kan basah, gak ada alat tulis yang waterprooft. Kalaupun saya punya tablet tahan air dan benda canggih sejenisnya, haruskah saya membawanya setiap kali ke toilet kemudian Mama saya bertanya, "Kamu gak akan bawa itu ke dalam kan, El?" Maaf ya kalau terkesan jorok, saya cuma ingin menjadi apa adanya. Soalnya blogger sejati harus menulis dengan gaya yang jujur, kalau tulisannya dibuat-buat supaya keliatan keren, lama-lama tulisannya jadi boring.

Ketika sedang di toilet, saya menjadi penceramah ulung untuk diri saya sendiri. Tentang masalah kesehatan yang sedang trend saat ini, yang seharusnya saya posting di website komersil. Bukankah segala informasi di internet itu selalu up to date? Website juga harus selalu update, untuk membuktikan kalau web tersebut hidup, setidaknya pengunjung merasakan kehadiran pengelola web. Tentang cerita-cerita fiksi yang menjadi fantasi saya, yang seharusnya saya buat sinopsisnya, dan saya berikan ke Sutradara. Meskipun tidak semuanya digarap, akan tetapi lebih tidak berguna lagi kalau tidak ditulis sama sekali. Coba lihat Raditya Dika, penulis yang juga pelawak, saya berlangganan videonya di YouTube. Cerita bersambung Malam Minggu Miko selalu punya episode terbaru setiap minggunya. Langganan saya yang lain, Anna Akana, juga mengunggah video baru setiap senin pagi. Kalau memang saya ini penulis skenario, setidaknya saya harus menghasilkan satu film pendek setiap minggu. Seorang profesional itu tidak berhenti jadi amatir, yang artinya jangan cepat puas, teruslah belajar. Lagipula kalau kita menguasai suatu bidang, bukan berarti kita benar-benar ahli di bidang itu kan?

Biasanya saya menulis naskah dengan tahapan Sinopsis - Treatment - Penokohan - Skenario. Kalau cerpen, semuanya tumpah ruah jadi satu. Sementara penulis harus membuat pembaca memahami alur dan karakter tokoh melaui cerita yang ditulis singkat. Bagi saya, itu merupakan tantangan tersendiri kemudian saya coba-coba menulis cerpen di Notes FB. Semoga tulisan saya kali ini nggak boring. Hehehe. (els)

21.15

Jumat, 17 Mei 2013

Shopping

Kalau ada orang yang bilang uang tidak bisa membeli kebahagiaan, berarti dia tidak tahu kemana harus belanja. Seperti wanita lainnya saya tidak munafik, naluri wanita itu memang tidak bisa menolak hasrat untuk  belanja, kan? Lagipula, ada beberapa alasan masuk akal kenapa wanita suka belanja atau shopping, entah itu membeli kebutuhan pribadi atau sekedar melepas stress, karena mau tidak mau harus diakui kalau shopping adalah cara yang lebih praktis ketimbang pergi ke terapist.

Abaikan saja motto Keep Calm and Go Shopping di gambar ilustrasi pada postingan ini, sepertinya itu kalimat yang menyesatkan, ya? Tapi saya tetap memasangnya karena sekarang sedang musim slogan Keep Calm and *titik titik*. Saya yakin naluri wanita tidak bisa menolak ketika dihadapkan pada kesempatan dimana mereka bisa berbelanja, apalagi jika mereka bisa merasakan dan menyentuh barang-barang yang akan mereka beli, mungkin beberapa pria juga suka shopping hanya saja tidak secara blak-blakan sepertinya  halnya yang diakui wanita. Teman-teman wanita saya (hanya yang saya anggap teman saja) tidak begitu familiar dengan shopping online, atau mungkin ini dugaan saya saja ya karena saya tidak begitu dekat dengan mereka. Yang saya tahu, selama bekerja di bisnis online saya terbiasa dengan sistem yang serba praktis, sehingga mendatangkan baju yang saya lihat di depan layar ke rumah sendiri itu suatu kemudahan yang canggih. Sampai-sampai saya berpikir, memilih-milih baju di toko itu seperti buang-buang waktu dan boros tenaga. Apakah wajar saya berpikiran begini?

Masalah mengatur uang dan menabung, semuanya kembali ke diri anda masing-masing. Saya tidak akan banyak menceramahi, tapi saya berpesan: jangan shopping tanpa perencanaan dan jangan tergoda barang diskon, kalau anda tidak benar-benar membutuhkannya. (el)


19.18

Sabtu, 11 Mei 2013

Ber-acting

Seseorang bisa dikatakan sedang beracting apabila ia mendalami peran yang dia mainkan, tidak memikirkan hal lain, dan tidak menyadari kamera. Bagaimana bisa seorang aktor tidak menyadari kamera, padahal ia tahu ia sedang di-shoot? Itulah tantangannya, kalau kita mau membuka diri untuk menyerap karakter yang kita mainkan, kita seolah-olah menyatu dengan peran itu. Kalau kita sudah menyatu dengan peran, kita melupakan segalanya dalam beracting, lupa kalau rambut kita berantakan, lupa kalau sepatu yang kita gunakan saat shooting belum dicuci, lupa kalau kita jelek (dan punya kantung mata), bahkan tidak memperdulikan kamera sama sekali karena yang kita lakukan hanyalah beracting sampai sutradara bilang berhenti.

Sewaktu saya masih menikmati jadi orang di belakang layar dengan menulis skenario, saya tidak pernah berpikir untuk mencoba ber-acting, dengan alasan tidak ada waktu untuk hadir saat shooting nanti. Saya bilang "...dengan menulis saja sudah cukup menguatkan identitas saya." Namun, waktu terus berjalan, hidup saya mengalami perubahan, setelah sekian lama saya menulis barulah ada sesuatu yang merubah pikiran saya untuk melihat langsung bagaimana naskah-naskah saya digarap. Saya melihat aktor dan aktris yang berbakat, mereka terlihat alami saat beracting seolah-olah itulah diri mereka, bahkan diam-diam saya mengagumi. 
Sutradara saya orangnya hampir tidak pernah serius kalau di luar shooting, dia berinteraksi dengan semua crew (termasuk saya) seperti sedang berada di sebuah film yang tidak punya alur cerita dimana setiap pertemuan adalah episode yang tidak jelas kemana bersambung-nya. Karena saya bekerja seperti air yang menyesuaikan bentuk pada tempatnya, saya pun terkontaminasi oleh crew yang hobi beracting dimana saja.

Berat sekali menerima kenyataan bahwa ternyata saya sangat jelek di kamera. Namun setelah belajar dari kesalahan berkali-kali, saya pun terbiasa, dan saya menikmati waktu-waktu dimana saya beracting. Kalau ada yang bilang jadi artis itu harus berpenampilan sempurna dan camera-face, saya tekankan itu kalimat menyesatkan yang membatasi daya kreatifitas seseorang. Karena bagi saya, seorang aktor/aktris terlihat jelek ketika acting mereka terlihat kaku dan emosinya datar-datar saja. Sedangkan aktor akan terlihat menawan ketika dia beracting secara natural, tahu kapan dia harus berimprovisasi.

Saat memutar ulang video rekaman, saya melihat diri saya menjadi orang lain, melepaskan diri ke dalam permainan, jiwa yang melayang-melayang membentuk emosi lain yang belum pernah saya tunjukkan kepada siapa pun. Entah saya menawan atau tidak, saya tidak peduli, saya hanya ingin mengeksplorasi apa yang saya sukai. :)
22.25

Selasa, 07 Mei 2013

Kau Tidak Sendirian

Saya mengenal orang-orang tidak begitu banyak, saya hanya mengenal beberapa orang saja. Saya membenci sekolah karena sewaktu masih jadi pelajar sering mendapat perlakuan bullying, akan tetapi sekolah adalah alasan saya untuk bertemu teman-teman. Karena saya hanya mengenal sedikit orang, begitu saya mendapatkan teman, sebisamungkin saya jaga persahabatan itu.

Ketika kita bertemu dengan seseorang dan merasa terhubung, pada klik itu, kita mendapatkannya. Namun kehidupan terus berjalan, karena setelah lulus dari sekolah setiap orang melanjutkan hidup mereka masing-masing, teman yang dulunya 'teman' itu bisa saja menjadi orang lain, dan orang asing bisa saja menjadi teman baru. Pada titik ini saya mempertanyakan saya termasuk teman yang setia atau bukan.

Mungkin saat ini saya menjalani kehidupan saya sendiri dan tidak pernah mengkontak mereka dengan alasan mereka tidak mengkontak saya lagi, egois sekali ya. Namun saya tidak bisa merahasiakan saya merindukan mereka. Itu bisa dilihat dari foto yang selalu terpajang di meja kerja saya, sejak saya mendapat pekerjaan, berpindah-pindah ruang kerja, mulai merintis usaha dari nol sampai sekarang, saya tidak tahu foto itu harus kemanakan.

Ada suatu masa dimana kita tahu kita bersama-sama namun tidak ada perasaan ingin memiliki, dengan mendapat pengakuan bahwa kita ada untuk mereka, itu sudah cukup membuktikan kita terhubung satu sama lain. Ada suatu masa dimana saya menghirup udara, saya merasakan nafas yang lain, bukan hanya jantung saya yang berdetak dan bukan hanya darah saya yang mengalir. Dari sanalah saya tahu bahwa saya tidak berjalan sendiri.

In memoriam, 
ARMY
20.53

Kamis, 02 Mei 2013

Aku Ingin Menulis

Selama ini, saya beranggapan bahwa ide-ide yang masih ada di dalam kepala itu bersifat liar dan cara menjinakkannya adalah dengan menulis. Anggapan tersebut saya dapatkan dari sebuah buku Happy Writing, ketika saya masih penggangguran. Betapa pun hebatnya sebuah ide, apabila tidak dituangkan ke dalam tulisan, ide itu tidak akan ada gunanya. Tanpa menulis, ide itu hanya numpang lewat saja di pikiran kita, dan tidak akan kembali lagi. Karena setiap ide itu berharga maka saya memutuskan untuk menjadi penulis.

Sepanjang berkarir di bisnis online, website merupakan salah satu media tulis yang dijadikan senjata utama dalam mempromosikan produk. Akan tetapi, artikel-artikel yang saya tulis di website seperti tidak memiliki gaya sendiri, walaupun gaya kepenulisan bukanlah aspek yang begitu penting, karena tujuan utama dari artikel tersebut informasi tersampaikan kepada pengunjung. Entah kenapa serangkaian aturan SEO membuat gaya kepenulisan seorang blogger seolah dibatasi, harus memasang keyword disana-sini, yang sebenarnya membuat suatu artikel terkesan spammy.

Berbeda halnya saat menulis di blog pribadi yang notabene tidak berniche (seperti blog ini misalnya), blogger bisa menulis apa saja tanpa ada batasan selama masih menggunakan bahasa yang sopan dan enak dibaca. Akan tetapi, seorang blogger sejati haruslah melakukan blogwalking dengan berkunjung ke blog lain dan meninggalkan jejak disana, untuk menjalin silaturahmi antar blogger. Karena bagi saya, blog adalah sarana untuk bertukar informasi, itulah pemikiran sederhana yang menjadi alasan kenapa saya membuat blog ini 2009 lalu.

Blog ini ibarat identitas saya, karena sesibuk apa pun kegiatan saya sewaktu belajar di Teknik Produksi Televisi dan Film (Broadcast) dulu, saya selalu ingat untuk membuka blog ini walaupun itu hanya sekedar login dan logout. Saya mencintai film karena saat saya menulis skenario, saya seperti menjadi orang yang tidak pernah kehabisan ide, ide-ide itu mengelilingi saya dan membuat saya merasa ditemani walaupun saya bekerja dalam kesendirian. Namun saya tetap berusaha memegang aturan-aturan tertentu dalam skenario, yang paling penting gunakanlah bahasa visual karena sutradara tidak suka tulisan yang bertele-tele seperti yang saya temukan di beberapa novel.

Intinya, dimana pun saya berada, saya hanya ingin menulis. 
21.08

Rabu, 24 April 2013

Astrada

Memastikan apakah produksi berjalan sesuai jadwal, memilah-milah adegan mana saja yang akan diambil sekaligus memperhatikan kesesuaian detail kostum dan tata artistik. Sungguh melelahkan memang, pengalaman pertama saya menjadi Astrada, dan inilah foto-foto saya saat penampilan sedang berantakan. Lindungi mata Anda :D



Ups, foto pertama ngeblur karena kebetulan orang yang memotret lupa mengatur fokus lensa. Tadinya saya minder apakah saking berantakanannya penampilan saya sampai dia malas memotret, eh ternyata saya disuruh bergaya. Jreng!



Astrada juga bisa acting, lho! Biarpun masih belajar tapi sobat pembaca bisa lihat di film pendek Modus TMT karya Suseno A Haryanto. Bagi anda yang membutuhkan jasa pembuatan video profile dan video klip, silahkan hubungi yang bersangkutan (khusus untuk area Tasikmalaya).


Tanpa make up dan baju ganti, sulit untuk survive di daerah terpencil. Untungnya saya easy-going, mudah merasa betah di lingkungan baru meskipun tuntutan pekerjaan membuat mata saya punya kantung mata atau istilahnya mata panda. -__- Harus pintar-pintar mencuri waktu buat tidur, tapi jangan sampai, anda tidur saat shooting berlangsung.
16.01

Senin, 01 April 2013

Dua Sisi Wajah

Minggu lalu, aku pergi ke suatu daerah terpencil untuk kepentingan shooting film lokal dimana sinyal susah didapat kecuali jika operator kamu Telkomsel (sungguh malang nasib pengguna Axis!). Penggarapan film itu dimulai sejak memasuki Maret, butuh tiga hari penuh untuk shooting di daerah terpencil, dan tidak terasa di awal April ini sepertinya proses editing sudah hampir selesai. Biasanya aku menulis naskah di luar jam online dan tidak melibatkan diri selama proses produksi, namun atas permintaan Sutradara, aku menyertakan diri ke daerah terpencil itu untuk menjadi asistennya. Lumayan buat refreshing daripada frustasi karena gagal move on.. Hehe :D

Harus kuakui kalau pengalamanku kali ini benar-benar keren. Di balik tampang rupawan para aktris yang biasa muncul di TV tersimpan kerja keras, apalagi kalau soal menjaga penampilan dan penguasaan acting. Mereka harus berkarakter dan serba bisa, dituntut harus selalu tampil sempurna di depan kamera walaupun kondisi mereka sedang kurang fit, bahkan mereka tidak melewatkan cuci muka sebelum tidur walaupun ngantuk berat.. Kadang aku tidak peduli apa pun kalau sudah ngantuk, lucu sekali. Di sela-sela break shooting, aku sempat bertukar pikiran dengan Sutradara dan Penata Rias, alhasil aku bisa menyimpulkan karakter wajahku seperti apa. Meskipun sedikit geli, tapi inilah kenyataannya, di pikiran mereka aku terlihat seperti orang yang aneh karena susah ditebak dan punya sepasang mata yang tidak seirama. 

Mata kiri punya tatapan tajam, lurus ke kamera seolah ingin menegaskan siapa aku. Sedangkan mata kanan tampak kosong, seperti ingin menghindar dan menyembunyikan sesuatu. Kalau digambarkan dengan Photoshop seperti ini kira-kira:

Sisi kiri dibiarkan begitu saja karena mewakili kesan pertama yang muncul di mata orang lain, sedangkan sisi kanan adalah kejutan di lain waktu yang tidak terduga. Kurasa perbedaan itu sifatnya alami, aku pernah baca artikel di Yahoo, sisi wajah sebelah kiri lebih menonjolkan karakter seseorang. Itulah sebabnya kebanyakan artis dan model terlihat lebih menarik saat di foto dengan pose yang cenderung ke kiri.
21.25

Rabu, 06 Maret 2013

Operasi Pengangkatan Kuku

Luka ini sudah tidak bisa dianggap remeh. Luka yang semula kukira akan sembuh dengan sendirinya, kini malah membengkak, panas, berdenyut dan bernanah - seolah ia menjerit dan meronta supaya kotoran yang ada di dalamnya segera dikeluarkan. Kemudian aku pergi ke rumah sakit terdekat dan bertanya kepada petugas piket tentang apa yang harus kulakukan dengan jari kakiku. Di samping petugas piket duduklah seorang dokter wanita -yang terlalu cantik untuk menjadi dokter- sedikit terkejut melihat kondisi kakiku -namun masih tetap tenang karena itulah pembawaan seorang dokter. "Kejadian seperti ini seringkali ditemukan pada pemain bola, dimana kukunya rusak karena cara menendang yang salah." komentarnya dengan sedikit bercanda. Aku nyengir saja menanggapinya.

Seorang perawat pria dengan stelan merah marun berjalan membimbingku ke sebuah ruangan. Dengan gaya berjalan baruku yang terpincang-pincang seperti sedang acting, aku mengikuti perawat muda itu. Setelah aku masuk ia memintaku untuk berbaring di ranjang pasien, perawat ini sepertinya tidak suka menunda-nunda, jadi aku pun naik ke ranjang yang lumayan tinggi -meskipun sedikit susah tapi percayalah, selalu ada cara untuk melakukan sesuatu. Saat aku berusaha untuk naik, si perawat pergi sebentar. Karena sedikit canggung aku hanya duduk di ranjang itu, bukan berbaring seperti yang diminta si perawat. Selama perawat itu pergi, aku mengamati benda-benda di sekitar, sampai aku tahu kalau ruangan ini ternyata ruang operasi!

Tidak sampai lima menit, perawat itu datang kembali dengan membawa alat tulis. Sambil mengamati luka pada jari kelingking dan jari manis di kaki kiriku, ia mengajukkan beberapa pertanyaan membosankan seputar identitas, yang spesifiknya begini:

"Kejadiannya kapan?"
"Kemarin malam sekitar jam setengah 10."

Dua orang perawat pria dengan stelan putih datang membawa perlatan medis. Sementara mereka berdua sibuk mengatur perkakas, si stelan merah melanjutkan pertanyaannya.

"Kejadiannya gimana?"
"Jatuh dari motor. Pas nyampe rumah langsung dicuci pake air hangat, dikasih betadin juga."
"Betadinnya ditetesin ke luka atau diminum?" tanya salah seorang perawat berbaju putih yang tiba-tiba mengetuk jari-jari kakiku dan aku sedikit terperanjat karenanya. 
"Aw! Ya, ditetesin, dong."

Setelah itu si stelan merah pergi lagi, sepertinya dia pergi untuk menyimpan laporannya.

"Jatuhnya di tanah ya? Atau di aspal?" tanya perawat berbaju putih satunya lagi yang tampak lebih muda.
"Eung.. Di tanah. Ya, di tanah!" jawabku sekenanya.
"Kalau di aspal takutnya rawan tetanus,"
Aku cuma oh-oh-oh saja mendengarnya, aku cukup penakut untuk mengira-mengira apa akibat dari lukaku. Untungnya aku masih menganut quote "The problem is the problem. The problem is your attitude about your problem." jadi aku tidak perlu paranoid meskipun aku harus. Hehe.

Si stelan merah itu datang tanpa membawa apa-apa dan langsung memakai sarung tangan karetnya dari meja perkakas. Dia menyuruhku berbaring lagi, aku pun terpaksa berbaring menyerahkan luka di kakiku menjadi urusannya. 

"Tahan, ya." sedetik kemudian dia langsung menekan lukaku, kurasa itulah caranya menghentikan pendarahan -dengan menekan sekuat mungkin tepat di atas luka. Tentu saja aku menjerit kesakitan, dan menjerit menjadi cara alami untuk mengalihkan perhatian dari rasa sakit. Aku heran kenapa dia tidak membiusku terlebih dulu, karena aku menjerit terlalu banyak dan itu memalukan, membuatku terlihat lemah meskipun iya. Mereka bertiga sedang membersihkan lukaku dan sentuhan sedikit saja membuatku menjerit kesakitan, tapi percuma saja tidak ada yang peduli dengan jeritanku. Setelah memastikan kotoran sudah dikeluarkan semua, mereka membereskan peralatan. 

Aku bangun dan memandangi kedua jari kakiku yang terluka. Dalam keadaan sangat bersih, aku bisa melihat dengan jelas kondisi yang lebih parah dari perkiraanku sebelumnya. Aku masih ingat saat mencucinya sendiri di rumah, aku sendiri yang mencabut kuku di jari kelingking karena sudah tidak ada harapan lagi untuk tumbuh. Dan jari manisnya yang kukira sudah kehilangan kuku saat kecelakaan itu, ternyata masih terdapat pecahan kuku yang tak beraturan di pangkalnya. "Ini harus dicabut semua. Kalau dipertahankan nantinya bakal tumbuh jelek deh, yakin," kata si stelan merah dengan mimik prihatin. "Nanti bisa-bisa kekeongeun, teh," kata si perawat berbaju putih yang lebih muda. Aku sudah sedih karena kehilangan satu kuku, dan sekarang aku akan kehilangan satu lagi. "Kalo dicabut sakit, gak?"

Perawat berbaju putih yang lebih tua menyiapkan jarum suntik sambil menjawab, "Lebih baik sakit sekali daripada sakit selamanya, mulai.." tanpa menunggu persetujuan dariku dia langsung menyuntikan bius ke pangkal jari manis di kaki kiriku. Rasanya sangat menyengat ketika jarum suntik menusuk kulit tipis kakiku yang kurus. Si stelan merah mengetuk jari manisku dan aku pun masih menjerit, tanpa berpikir dia memberikan suntikan lagi di titik lain. Mereka menyuntik kaki kiriku di tiga titik, aku bisa merasakannya. Dalam keadaan berbaring aku hanya bisa menutup mata dan mengira-ngira apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kini kaki kiriku sudah dibius dan tidak bisa digerakkan, namun aku masih bisa merasakan sakit saat mereka bertiga sibuk mengangkat kuku dari jari manisku. Aku menghabiskan banyak energi dengan meronta-ronta dan  menjerit, namun mereka mengobrol untuk berusaha menghilangkan panik. Mereka sedikit bercanda dengan mengatakan infeksi sudah menyebar dan berencana mengamputasi jari kakiku, ah yang benar saja.. Aku masih menjerit padahal operasi sudah selesai.

Melihat dua perawat berbaju putih itu melepaskan sarung tangan karet mereka, aku tau sudah tidak ada lagi yang perlu ditangisi. Perawat dengan stelan merah marun memasang perban di kedua jari kakiku. Aku bangun dan mengeluarkan cermin dari tas, OMG! Eyeliner-ku luntur..

"Mbak, semua kuku di kaki jangan dibiarkan panjang, ya. Soalnya rawan kecelakaan," kata si perawat selesai memasang perban. "Gak bakalan ngurangin cantik, kok." tutupnya sambil berlalu membawa keluar peralatan medis. 

Oh, yeah.. Dan aku harus membeli eyeliner yang waterproof!

Setelah pacarku menyelasaikan administrasi dan membawa obat resep dokter, aku pun pulang ke rumah untuk menebus tidur nyenyak yang kemarin malam terenggut.

23.01

Selasa, 26 Februari 2013

New Game: IMVU

I am crazy in playing games especially those which come in avatar based. After The Sims Social which succeed seizes my attention in spare time, then i found IMVU from a pop up of social bookmarking that i used to shared my post links. Damn the pop up, if my browser block any ad I wouldn't find this game!

I don't know what means of that name because I just know this is an IMVU. It's a game which use 3D avatar where you can dress up, meet people, interact as human in real life even we can make a love! Hahaha. That's why this game is just for 18+, because a lot of avatars are sexy (and I was wondering that impossible to get the perfect body shape like my ava) so if you are young enough that I can be your mother then you are not allowed to install this application. 

In this game we are not walking but we are jumping from one dot to another. Simply when you click the chair, you will sit there. When you click the bed, you will  be lying down and some beds serve couple sexy poses! xD

Maybe I spent too much time to enjoy this game not because the adult things but it have the same aspects with our real life. We can have a role to play as who we are, have a family, dating, etc. For homeworker like me, the virtual world is more familiar. Playing this game allow you to hang out and have fun as you do in real, but don't put emotion in. It's not a way to substitue the real life, it just game to have break. These are snapshots I had taken.








14.14
Follow Us

Teman

Khasiat Daun Sirsak

© Old Sunday All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates